WELCOME

SELAMAT DATANG.

Please feel free to look around and find the information in this blog.

Silahkan melihat-lihat dan cari informasi yang ada di blog ini.

If there was an error posting, please in the comment.

Apabila ada kesalahan postingan, mohon di comment.

If not satisfied with the look of this blog, I apologize.

Kalau kurang puas dengan tampilan blog ini, saya mohon ma'af.

Visit this blog again next time.

Kunjungi lagi blog ini lain kali.

Tampilkan postingan dengan label FISIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FISIKA. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Transformator

Prinsip Kerja Transformator
Komponen Transformator (trafo)
Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Transformator terdiri dari 3 komponen pokok yaitu: kumparan pertama (primer) yang bertindak sebagai input, kumparan kedua (skunder) yang bertindak sebagai output, dan inti besi yang berfungsi untuk memperkuat medan magnet yang dihasilkan.

Bagian-Bagian Transformator

Contoh Transformator                    Lambang Transformator
Prinsip Kerja Transformator
Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika Kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual inductance).
Pada skema transformator di samping, ketika arus listrik dari sumber tegangan yang mengalir pada kumparan primer berbalik arah (berubah polaritasnya) medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah sehingga arus listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah polaritasnya.







Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan:




Vp = tegangan primer (volt)
Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder
Simbol Transformator
Berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan skunder transformator ada dua jenis yaitu:
  1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns > Np).
  2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns).
Pada transformator (trafo) besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh kumparan sekunder adalah:
  1. Sebanding dengan banyaknya lilitan sekunder (Vs ~ Ns).
  2. Sebanding dengan besarnya tegangan primer ( VS ~ VP).
  3. Berbanding terbalik dengan banyaknya lilitan primer,
Sehingga dapat dituliskan:

Penggunaan Transformator
Transformator (trafo) digunakan pada peralatan listrik terutama yang memerlukan perubahan atau penyesuaian besarnya tegangan bolak-balik. Misal radio memerlukan tegangan 12 volt padahal listrik dari PLN 220 volt, maka diperlukan transformator untuk mengubah tegangan listrik bolak-balik 220 volt menjadi tegangan listrik bolak-balik 12 volt. Contoh alat listrik yang memerlukan transformator adalah: TV, komputer, mesin foto kopi, gardu listrik dan sebagainya.
Contoh cara menghitung jumlah lilitan sekunder:
Untuk menyalakan lampu 10 volt dengan tegangan listrik dari PLN 220 volt digunakan transformator step down. Jika jumlah lilitan primer transformator 1.100 lilitan, berapakah jumlah lilitan pada kumparan sekundernya ?
Penyelesaian:
Diketahui:   Vp = 220 V
                  Vs = 10 V
                  Np = 1100 lilitan

Ditanyakan: Ns = ........... ?
Jawab:
             
Jadi, banyaknya lilitan sekunder adalah 50 lilitan

Penerapan Induksi Elektromagnetik

  1. GENERATOR

    Suatu sistem yang merubah energi mekanik menjadi energi listrik dengan prinsip kerja berdasarkan peristiwa induksi (hukum Faraday). Besarnya GGL induksi yang timbul di dalam kumparan adalah:

    e = -N dF/dt dengan F = Fo cos wt ; dF/dt = wFo sin wt ; sehingga:

    e = e maks sin wt

    e maks = N w Fo = N w A B


  2. TRANSFORMATOR

    Alat untuk mengubah tegangan listrik bolak-balik. Prinsip kerjanya bedasarkan pemindahan daya/energi listrik dari kumparan primer ke kumparan sekunder dengan cara induksi.

    Trafo umum V2/N2 = V1/N1

    Trafo:
    • Step up : V2 > V1
    • Step down: V1 > V2

    Transforrnator ideal:

    Pin = Pout atau V1I1 = V2I2

    V1/V2 = I2/I1

    Transfomator tak ideal:

    Pin ¹ Pout ; Pout = h Pin

    h = Pout/Pin x 100%

    h = efisiensi transformator


  3. ARUS PUSAR

    Arus yang timbul dalam suatu logam/penghantar yang bergerak di dalam medan magnet.Umumnya merugikan karena dapat menimbulkan kalor (kerugian energi), dapat dikurangi dengan memecah-mecah penghantar tersebut.

    Pemanfaatan arus pusar:

    1. Alat pemanas induksi
    2. Redaman elektromagnetik/rem magnetik

Contoh:
1. Kawat PQ yang panjangnya l digeser mendatar dengan kecepatan v pada rangkaian ABCD dengan hambatan R. Geseran kawat PQ memotong tegak lurus medan magnet homogen B. Jika potensial dititik P lebih besar daripada potensial di titik Q. hitunglah besar dan arah gaya F yang timbul akibat gerak kawat PQ tersebut !
Jawab:
Karena potensial di titik P lebih besar dari titik Q maka arah arus (elektron) mengalir dari Q ke P. sehingga berdasarkan kaidah Lorentz maka arah gaya F harus ke kiri.
Besar gaya F adalah:
F= l I B sin q ® (sin q= 1) ................(1)
I = e/R = l v B/R ............................(2)
gabungkan persamaan (1) dan (2), maka:
F = (l² V B²)/R

2. Sebatang kawat panjang 20 cm diputar pada satu ujungnya dengan frekuensi 2 put/detik di dalam medan magnet ^ bidang putar. Hitung GGL imbas yang terjadi jika B = 0,3 tesla !
Jawab:
Fawal = B . Aawal = 0,3 x 0 = 0
f = 2 Hz ® T= 1/f = ½ detik
Jadi dalam waktu , ½ detik luasan yang dilingkungi fluks magnetik adalah:
Aakhir = p ®
R = jari-jari/panjang kawat = 0,2 m
Fakhir = B . Aakhir = 0,3 . (0,2)² . p
Fakhir = 12 x 10-3 p Wb.
Jadi e = - N dF/dt =- N (Fakhir - Fawal)/dt = -1.12 x 10-3 p volt
3. Sebuah solenoida memiliki jumlah lilitan sebanyak 100 buah. Panjang dan luas penampang solenoida berturut-turut 75 cm dan 25 cm2.
Hitunglah:
(a) Induktansi diri solenoida
(b) Energi yang dihasilkan oleh peristiwa Induksi diri, bila arus listrik yang mengalir 10 A.
(c) Besar GGL induksi diri yang terjadi, bila dalam waktu 5 detik kuat arus berubah menjadi 2,5 A.
Jawab:
(a) Induksi diri dari solenoida adalah:

L = mo N² A/l = [4p .10-7(100)2.25.10-4]/[75.10-2] = 3/4p.10-5
(b) Energi yang dihasilkan, bila I = 10 A adalah:
W = 1/2 LI2 = 1/4 . 4/3p10-5(10)2 = 1/3p.10-3 joule
(c) Besar GGL induksi diri bila kuat arus berubah menjadi 2,5 A adalah:
E = - L dI/dt = - 4/3p10-5 (10-2,5/5)
E = -4/3p .10-5 . 3/2 = -2 p 10-5 volt
4. Kumparan sekunder suatu transformator step-down terdiri 2 bagian yang terpisah masing-masing 150 volt den 30 volt. Kumparan primer terdiri 1100 lilitan dan dihubungkan dengan tegangan 220 volt. Jika arus pada kumparan primer 0,2 A, hitung arus dan lilitan masing-masing kumparan sekunder !
Jawab:
Efisiensi trafo tidak diketahui ® dianggap h = 100%
VS1 . IS1 = VP . IP ® IS1 =220 x 0,2/150 = 44/150 A
VP / VS1 = NP / NS1 ® NS1 = 150/200 x 1100 = 750 lilitan
VS2 . VS2 = VP . IP ® IS2 = 220 x 0,2/30 = 44/30 A

VP / VS2 = NP / NS2 ® NS2 30 / 220 x 1100 = 150 lilitan

GGL induksi

Michael Faraday (1791-1867), seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris, membuat hipotesis (dugaan) bahwa medan magnet seharusnya dapat menimbulkan arus listrik. Untuk membuktikan kebenaran hipotesis Faraday.
Berdasarkan percobaan, ditunjukkan bahwa gerakan magnet di dalam kumparan menyebabkan jarum galvanometer menyimpang. Jika kutub utara magnet digerakkan mendekati kumparan, jarum galvanometer menyimpang ke kanan. Jika magnet diam dalam kumparan, jarum galvanometer tidak menyimpang. Jika kutub utara magnet digerakkan menjauhi kumparan, jarum galvanometer menyimpang ke kiri. Penyimpangan jarum galvanometer tersebut menunjukkan bahwa pada kedua ujung kumparan terdapat arus listrik. Peristiwa timbulnya arus listrik seperti itulah yang disebut induksi elektromagnetik. Adapun beda potensial yang timbul pada ujung kumparan disebut gaya gerak listrik (GGL) induksi.
Terjadinya GGL induksi dapat dijelaskan seperti berikut. Jika kutub utara magnet didekatkan ke kumparan. Jumlah garis gaya yang masuk kumparan makin banyak. Perubahan jumlah garis gaya itulah yang menyebabkan terjadinya penyimpangan jarum galvanometer. Hal yang sama juga akan terjadi jika magnet digerakkan keluar dari kumparan. Akan tetapi, arah simpangan jarum galvanometer berlawanan dengan penyimpangan semula. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyebab timbulnya GGL induksi adalah perubahan garis gaya magnet yang dilingkupi oleh kumparan.
Menurut Faraday, besar GGL induksi pada kedua ujung kumparan sebanding dengan laju perubahan fluks magnetik yang dilingkupi kumparan. Artinya, makin cepat terjadinya perubahan fluks magnetik, makin besar GGL induksi yang timbul. Adapun yang dimaksud fluks nmgnetik adalah banyaknya garis gaya magnet yang menembus suatu bidang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi GGL Induksi


Indikator IPA yang ke 18 adalah menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi GGL induksi. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi GGL induksi :
  1. kekuatan medan magnet (B)
  2. banyak lilitan (N)
  3. kecepatan perubahan garis gaya magnet
  4. panjang penghantar (l)
  5. kecepatan gerak penghantar (v)

Senin, 03 September 2012

Listrik Statis

 Listrik statis merupakan energi yang dimiliki oleh benda bermuatan listrik. Muatan listrik bisa negatif atau positif. Semua zat terbentuk dari atom-atom. Setiap atom mempunyai inti atom yang terdiri dari proton dan elektron yang mengelilinginya. Proton mempunyai muatan listrik positif, dan elektron mempunyai muatan listrik negatif. Ketika dua zat seperti balon dan tangan kamu saling digosokkan, elektron ditarik dari material yang mempunyai daya tarik yang lemah (tangan) dan menempel pada material yang mempunyai daya tarik yang kuat (balon). Hal ini menyebabkan kedua material menjadi bermuatan listrik. Material yang kehilangan elektron menjadi bermuatan positif dan material mendapatkan elektron menjadi bermuatan negatif. Balon dan tangan merupakan listrik netral (jumlah muatan positif dan negatifnya sebanding) sebelum digosok. Karena jumlah muatan positif dan negatifnya sama. Setelah digosok, balon mempunyai muatan negatif berlebih dan tangan mempunyai muatan positif yang berlebih. Muatan listrik yang tidak sejenis saling tarik menarik, sehingga muatan negatif balon ditarik ke muatan positif tangan karena perbedaan muatannya. Perhatikan dalam gambar bahwa tidak ada perubahan jumlah muatan total gabungan. Penggosokan menyebabkan elektron-elektron yang ada bergerak dari satu obyek ke obyek yang lain.

Rangkaian Hambatan

  • Rangkaian Seri
Berdasarkan hukum Ohm: V = IR, pada hambatan R1 terdapat teganganV1 =IR1 dan pada hambatan R2 terdapat tegangan V2 = IR 2. Karena arus listrik mengalir melalui hambatan R1 dan hambatan R2, tegangan totalnya adalah VAC = IR1 + IR2.
Mengingat VAC merupakan tegangan total dan kuat arus listrik yang mengalir pada rangkaian seperti di atas (rangkaian tak bercabang) di setiap titik sama maka
VAC = IR1 + IR2
I R1 = I(R1 + R2)
R1 = R1 + R2 ; R1 = hambatan total
Rangkaian seperti di atas disebut rangkaian seri. Selanjutnya, R1 ditulis Rs (R seri) sehingga Rs = R1 + R2 +...+Rn, dengan n = jumlah resistor. Jadi, jika beberapa buah hambatan dirangkai secara seri, nilai hambatannya bertambah besar. Akibatnya, kuat arus yang mengalir makin kecil. Hal inilah yang menyebabkan nyala lampu menjadi kurang terang (agak redup) jika dirangkai secara seri. Makin banyak lampu yang dirangkai secara seri, nyalanya makin redup. Jika satu lampu mati (putus), lampu yang lain padam.
  • Rangakaian Paralel
Mengingat hukum Ohm: I = V/R dan I = I1+ I2, maka
Gambar:paralel1.jpg
Pada rangkaian seperti di atas (rangkaian bercabang), V AB =V1 = V2 = V. Dengan demikian, diperoleh persamaan
Gambar:paralel2.jpg
Rangkaian yang menghasilkan persamaan seperti di atas disebut rangkaian paralel. Oleh karena itu, selanjutnya Rt ditulis Rp (Rp = R paralel). Dengan demikian, diperoleh persamaan Gambar:paralel3.jpg
Berdasarkan persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam rangkaian paralel, nilai hambatan total (Rp) lebih kecil dari pada nilai masing-masing hambatan penyusunnya (R1 dan R2). Oleh karena itu, beberapa lampu yang disusun secara paralel sama terangnya dengan lampu pada intensitas normal (tidak mengalami penurunan). Jika salah satu lampu mati (putus), lampu yang lain tetap menyala.

Hukum Kirchoff

Arus listrik yang melalui suatu penghantar dapat kita pandang sebagai aliran air sungai. Jika sungai tidak bercabang, jumlah air di setiap tempat pada sungai tersebut sama. Demikian halnya dengan arus listrik. 

Gambar:hkirchoff.jpg

Jumlah kuat arus yang masuk ke suatu titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan tersebut. Pernyataan itu sering dikenal sebagai hukum I Kirchhoff karena dikemukakan pertama kali oleh Kirchhoff.
Maka diperoleh persamaan :
I1 + I2 = I3 + I4 + I5
I masuk = I keluar

Hambatan Kawat Penghantar

Besar hambatan suatu kawat penghantar 
1. Sebanding dengan panjang kawat penghantar. artinya makin panjang penghantar, makin besar hambatannya, 
2. Bergantung pada jenis bahan kawat (sebanding dengan hambatan jenis kawat), dan 
3. berbanding terbalik dengan luas penampang kawat, artinya makin kecil luas penampang, makin besar hambatannya. Jika panjang kawat dilambangkan ℓ, hambatan jenis ρ, dan luas penampang kawat A. Secara matematis, besar hambatan kawat dapat ditulis :

Gambar:kawat.jpg

Nilai hambatan suatu penghantar tidak bergantung pada beda potensialnya. Beda potensial hanya dapat mengubah kuat arus yang melalui penghantar itu. Jika penghantar yang dilalui sangat panjang, kuat arusnya akan berkurang. Hal itu terjadi karena diperlukan energi yang sangat besar untuk mengalirkan arus listrik pada penghantar panjang. Keadaan seperti itu dikatakan tegangan listrik turun. Makin panjang penghantar, makin besar pula penurunan tegangan listrik.

HUKUM ohm

Aliran arus listrik dalam suatu rangkaian tidak berakhir pada alat listrik. tetapi melingkar kernbali ke sumber arus. Pada dasarnya alat listrik bersifat menghambat alus listrik. Hubungan antara arus listrik, tegangan, dan hambatan dapat diibaratkan seperti air yang mengalir pada suatu saluran. Orang yang pertama kali meneliti hubungan antara arus listrik, tegangan. dan hambatan adalah Georg Simon Ohm (1787-1854) seorang ahli fisika Jerman. Hubungan tersebut lebih dikenal dengan sebutan hukum Ohm.
Setiap arus yang mengalir melalui suatu penghantar selalu mengalami hambatan. Jika hambatan listrik dilambangkan dengan R. beda potensial V, dan kuat arus I, hubungan antara R, V, dan I secara matematis dapat ditulis:
Gambar:ohm.jpg
Sebuah penghantar dikatakan mempunyai nilai hambatan 1 Ω jika tegangan 1 V di antara kedua ujungnya mampu mengalirkan arus listrik sebesar 1 A melalui konduktor itu. Data-data percobaan hukum Ohm dapat ditampilkan dalam bentuk grafik seperti gambar di samping. Pada pelajaran Matematika telah diketahui bahwa kemiringan garis merupakan hasil bagi nilai-nilai pada sumbu vertikal (ordinat) oleh nilai-nilai yang bersesuaian pada sumbu horizontal (absis). Berdasarkan grafik, kemiringan garis adalah α = V/T Kemiringan ini tidak lain adalah nilai hambatan (R). Makin besar kemiringan berarti hambatan (R) makin besar. Artinya, jika ada suatu bahan dengan kemiringan grafik besar. bahan tersebut makin sulit dilewati arus listrik. Komponen yang khusus dibuat untuk menghambat arus listrik disebut resistor (pengharnbat). Sebuah resistor dapat dibuat agar mempunyai nilai hambatan tertentu. Jika dipasang pada rangkaian sederhana, resistor berfungsi untuk mengurangi kuat arus. Namun, jika dipasang pada rangkaian yang
rumit, seperti radio, televisi, dan komputer, resistor dapat berfungsi sebagai pengatur kuat arus. Dengan demikian, komponen-komponen dalam rangkaian itu dapat berfungsi dengan baik. Resistor sederhana dapat dibuat dari bahan nikrom (campuran antara nikel, besi. krom, dan karbon). Selain itu, resistor juga dapat dibuat dari bahan karbon. Nilai hambatan suatu resistor dapat diukur secara langsung dengan ohmmeter. Biasanya, ohmmeter dipasang hersama-sama dengan amperemeter dan voltmeter dalam satu perangkat yang disebut multimeter. Selain dengan ohmmeter, nilai hambatan resistor dapat diukur secara tidak langsung dengan metode amperemeter voltmeter.

LISTRIK DINAMIS


Listrik Dinamis adalah listrik yang dapat bergerak. cara mengukur kuat arus pada listrik dinamis adalah muatan listrik dibagai waktu dengan satuan muatan listrik adalah coulumb dan satuan waktu adalah detik. kuat arus pada rangkaian bercabang sama dengan kuata arus yang masuk sama dengan kuat arus yang keluar. sedangkan pada rangkaian seri kuat arus tetap sama disetiap ujung-ujung hambatan. Sebaliknya tegangan berbeda pada hambatan. pada rangkaian seri tegangan sangat tergantung pada hambatan, tetapi pada rangkaian bercabang tegangan tidak berpengaruh pada hambatan. semua itu telah dikemukakan oleh hukum kirchoff yang berbunyi "jumlah kuat arus listrik yang masuk sama dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar". berdasarkan hukum ohm dapat disimpulkan cara mengukur tegangan listrik adalah kuat arus × hambatan. Hambatan nilainya selalu sama karena tegangan sebanding dengan kuat arus. tegangan memiliki satuan volt(V) dan kuat arus adalah ampere (A) serta hambatan adalah ohm. 

Kuat arus listrik dirumuskan sebagai berikut : 
Keterangan :
I  = kuat arus listrik (ampere, A)
t = selang waktu (sekon, s)
q = muatan listrik (coulumb, C)

Contoh Soal :

Dalam suatu kabel tembaga, terjadi perpindahan 20 mC muatan selama 4 s. Berapakah kuat arus listrik yang mengalir dalam kabel tersebut?

Jawab:
Muatan listrik ( q ) =  20 mC = 0,02 C
Waktu aliran ( t ) = 4 s
Arus yang mengalir,

I = q / t
I = 0,02 / 4
I = 0,005 A = 5 mA

Jadi, arus listrik yang mengalir adalah 5 mA

Selasa, 17 Juli 2012

PERBEDAAN ZAT PADAT,CAIR,GAS

PERBEDAAN ZAT PADAT,CAIR,GAS

NO
ZAT PADAT
ZAT CAIR
ZAT GAS
1
Mempunyai bentuk dan volume tertentu.
Bentuk tidak tetap bergantung
wadahnya, volume tertentu.
.
Tidak mempunyai bentuk dan volume tertentu, bergantung tempatnya.

2
Jarak antarpartikel sangat rapat
Jarak antarpartikel agak
renggang.

Jarak antarpartikel sangat
renggang.

3
Partikel-partikelnya tidak dapat bergerak bebas
Partikel-partikelnya dapat bergerak bebas
Partikel-partikelnya dapat bergerak sangat cepat

SIFAT FISIKA AIR

SIFAT FISIKA AIR

Air yang kalian gunakan sehari – hari memiliki sifat yang isitimewah. Dalam bentuk padat seperti es. Dalam bentuk gas,air berupa uap. Air dalam bentuk cair yang dimasukkan dalm kantong plastik setelah di bekukan akan menjadi es berbentuk padat. Bila es di biarkan di atas meja maka bagian kantong plastik akan basah oleh air dan es yang berada dalam kantong plastik akan berubah menjadi air lagi. Jika air di letakkan dalam panci dan di panaskan sampai mendidih air akn menguap dan berubah wujud menjadi uap air yang berupa gas. Ketika cermin di dekatkan dengan uap air diatas panci maka uap air tersebut akn mengalami pendinginan (mengembun) menjadi air kembali.

Pada saat air berubah menjadi es padat kemudian menjadi uap air tidak terjadi pembentukan materi baru. Air,es batu,dan uap air adalah materi yang sama, yaitu, air perubahn wujud,seperti membeku,mencairmengembun dan menguap merupakn perubahan zat secara fisika . dengan demikian, perubahan fisika dapat terjadi karena adanya prosese pendinginan dan pemanasan.


MENCAIR :artinya dari padat menjadi air

MENGUAP : artinya dari cair menjadi uap/gas

MENGEMBUN : artinya dari gas menjadi air

MEMBEKU : artinya dari cair menjadi padat


CONTOH

Mencair : es yang di biarkan di ruang terbuka akan mencair

Menguap: air laut terkena sinar matahari akan menguap menjadi awan

Mengembun : pada pagi hari daun di sekitar rumah menjadi basah, karena proses terjadingan mengembun


MEMBEKU: ibu memasukkan air di plas tik lalu di taruh di frezer akan berubah menjadi es. bagaimanakah keadaan pratikel benda padat benda cair dan gas? Dalam bentuk padat, suatu zat mempunyai sususnan pratikel yang rapat dan tetap. Dalam bentuk cair, suatu zat mempunyai susunan pratikel yang rapat,namun masih dapat bergerak. Dalam bentuk gas, suatu zat mempunyai susunan pratikel yang rapat, namun masih dapat bergerak cepat. Apakah yang terjadi ketika benda padat mencair , benda cair membeku dan benda cair menguap?


MENCAIR: Pratikel-pratikel benda padat hanya bis bergetar di tempatnya. Ketika di panaskan,pratikel-pratikel itu bergetar lebih cepat sehingga pratikel-pratikelnya mulai bergerak leluasa dan berpindah tempat (mengembang). Pada saat itulah, zat padat mengalami peristiwa yang di sebut mencair.


MENGUAP : jika dipanskan terus menerus pratikel pratikel itu akan bergerak dengan cepat untuk berpindah tempat makin jauh. Jarak antara pratikel yang maikn jauh menjadikan ikatan antara pratikel menjadi lemah. Akibatnya beberapa pratikel mulai melepaskan diri dari ikatan dengan pratikel lain. Pada saat itulah zat cair mengalami suatu peristiwa yang disebut menguap.


SIFAT FISIKA

Sifat fisika adalah sifat suatu zat ditinjau dari segi mekanis (gerak),teknis (keadaan benda), dan konduksinya (daya hantar ). Sifat mekanis benda meliputi segala bentuk gerak yang dimiliki oleh benda. Baik benda bergerak tanpa ada penyebab maupun penyebab benda bergerak. Sifat termis (keadaan) benda berkaitan dengan wujud suatu benda. Wujud suatu benda meliputi bentuk, ukuran, dan kepadatan. Wujud suatu benda biasanya di pengaruhi oleh suhu tekanan dan kalor (panas). Hal ini berkaitan dengan titik didih dan titik lebur yang di miliki suatu benda. Konduksi, berkaitan dengan kemampuan benda tersebut untuk menghantarkan / mengubah suatu benda dengan energi tertentu. Setiap benda mempunyai sifat-sifat fisika. Batu , pasir,karet,palstik,kertas dan gelas juga mempunyai sifat-sifat fisika.